Menahun (VI)

Cinta bisa dilihat dari bagaimana seseorang memberikan upayanya. Meski kadang hal-hal yang diupayakan tersebut tidak melulu nampak di mata. Namun pada hati ia tetap terasa. 

Kita sering sekali mampir ke toko-toko game nintendo switch setiap ke mall. Hanya melihat-lihat game yang buatku tidak murah untuk ukuran sebuah permainan. Walaupun kamu punya uangnya, tapi kamu memilih untuk tidak beli. Sementara untuk hal-hal yang aku ingin, kamu berusaha mewujudkannya bukan dalam waktu yang lama. Dan itu cukup membuatku sadar bahwa lagi-lagi kebahagiaan dan kenyamananku seolah lebih utama.

Tiga hari lalu selepas kamu mengambil paspor kita yang sudah diurus cancel visa tinggal Malaysia, kamu menunjukkan foto game nintendo yang sedari dulu kamu incar. Hanya tiga detik, kemudian kamu bercerita persoalan lain. Aku cuma ingat pokemon, tapi lupa detailnya. Namun cukup menjadi bekal untuk aku tanyakan ke abang staf game yang nama storenya saja aku juga tidak tahu. Yang penting saat itu kamu bilang di NU Sentral Mall.

Sore tadi aku ke sana, membeli kebahagiaan yang sudah terlalu lama kamu tunda demi membelikan bahagia-bahagiaku sebelumnya. Hatiku berdebar karena mempersiapkan kejutan kecil yang tak seberapa dibanding apa yang selama ini kamu berikan. Bergegas aku kembali ke KLCC dengan LRT karena sebentar lagi kamu pulang kantor. Menyamarkan buru-buruku dengan pergi ke Sephora untuk menukar poin sebagai alasan. Tak lama kamu datang, menghampiriku sembari senyum-senyum mencurigakan.

"Siapa yang beliin acu game nintendo pokemon yaa?" Kamu bilang. Masih senyum-senyum.

"Iiiih kok tauuu?" Aku kaget, tertawa sambil kebingungan.

Ternyata kamu mendapatkan email, karena saat membayar di kasir aku memang menyertakan membermu agar kamu bisa mengumpulkan poin. Astaga kenapa aku tidak kepikiran. Aku peluk kamu erat sambil malu karena bisa-bisanya ketahuan. Inilah salah satu bentuk cintaku, Bumi. Ingin membahagiakan kamu dalam cakupan usaha yang aku bisa. Kita lanjut tertawa sepanjang jalan ke kedai kopi langganan. 

Kita duduk di coffee bean & tea leaf KLCC. Bertemankan satu gelas double chocolate ice blended yang tinggal setengah, gelas spanish latte yang tinggal setengah, piring bekas carrot cake yang sudah kita makan, serta kaset nintendo pokemon kado ulang tahun yang baru saja kubeli dengan sembunyi-sembunyi. Semua orang sedang berbicara di meja masing-masing. Saling menghabiskan waktu dengan bercerita seperti yang kita lakukan sekarang. Duduk bersebelahan. Aku bersandar ke badanmu sedangkan kamu merangkulku.

Ternyata hari ini kita tidak sedang liburan ya. Setiap tahunnya kita selalu merayakan ulang tahun kita dengan pergi-pergi ke luar provinsi atau negara. Namun kali ini semua sisa cutimu sudah dikumpulkan di akhir supaya kita bisa lebih cepat pulang ke Indonesia. Agar punya lebih banyak waktu untuk mengurus kepindahan ke Singapore setelahnya, dan aku ke Batam untuk sementara waktu sambil menunggu visa dependant dari kantormu yang baru. Aku sungguh berharap tidak akan lama tinggal sendirian di Batam. Meski dengan kapal ferry bisa ditempuh dengan 40 menit sehingga memudahkan aku dan kamu bolak-balik, tapi tetaah aku ingin bertemu kamu setiap hari seperti sekarang.

Ah bagaimanapun aku percaya, bahwa ini adalah perjuanganku untuk bisa mendukung mimpimu juga. Dan aku tidak lupa bahwa kamu juga sedang berjuang melakukan banyak hal yang tidak mudah. Maka terima kasih banyak Bumi untuk semuanya. Pada semua hal yang kamu lakukan untuk kita bisa hidup dengan lebih sejahtera. Aku sayang kamu selamanya.

Komentar

Yang Sering Dibaca