Menahun (IV)

Kita berada di Batam. Kamu sedang menonton bola dan mengemil corntoz yang beli di Johor Bahru. Aku di dalam selimut tebal, kedinginan. Menunggu waktu untuk kita berangkat ke jembatan 6 untuk snorkeling.

Sudah empat kali ulang tahunmu kita rayakan bersama sebagai teman baik yang saling mencintai. Sekarang kepalamu ada tiga dan aku masih mencintaimu berjuta-juta banyaknya.

***

Di ulang tahunmu kali ini aku cukup deg-degan. Aku suka sekali dengan pantai tapi takut jika harus berenang di tengah lautan. Sewaktu kamu bilang ingin merayakan pertambahan umur dengan menyelam, jantungku berdegup lebih kencang. Setiap pertambahan detik menuju waktu kita akan sampai ke pantai kemudian menyeberang ke pulau Ranoh dengan kapal kayu bermesin sejujurnya membuatku tidak tenang. Tapi satu hal yang paling aku yakini yaitu aku percaya bahwa untuk melindungiku, kamu sangat bisa diandalkan.

Setelah kapal kayu itu berlabuh di pulau Ranoh, kita disambut hangat. Pulaunya sepi namun indah sekali. Jumlah stafnya seperti sama banyak dengan orang yang berlibur ke pulau ini. Kita sama-sama diberikan gelang juga minuman sambutan. Pelayanannya sangat baik, mereka tahu bagaimana seharusnya.

Kita makan hidangan yang sudah disiapkan, sholat berjamaah di saung, kemudian saling mengambil gambar. Bermain kayak, banana boat, dan berjalan menuju balon air berbentuk permainan anak-anak. Setelah itu kita naik feri ke titik selam. Aku sibuk merekam video namun hatiku ketakutan, Bumi justru terlihat sangat senang. Ada banyak hal yang selalu aku khawatirkan. Bagaimana jika ada hiu? Bagaimana jika tersengat ubur-ubur? Bagaimana jika life jacket ini kempes lalu membuat tenggelam? 

Tapi lagi-lagi Bumi menenangkan. Ada aku, dia bilang. Bumi terima kasih sudah selalu mengajakku mencoba hal-hal baru. Ke manapun kita pergi, asal berdua, aku pasti selalu merasa nyaman. Sejak hidup denganmu, aku merasa menjadi orang paling kaya.

Komentar

Yang Sering Dibaca